Lulusan Teknik Informatika ITS Angkatan 1999, yang menemukan passion-nya di dunia parenting dan babywearing.
Saat ini, Nuning aktif berkarya di CuddleMe, memadukan logika terstruktur ala anak IT dengan sentuhan kasih sayang ibu untuk menciptakan gendongan dan perlengkapan bayi yang inovatif, aman, dan ergonomis.
Selain mendesain produk, ia juga seorang Konsultan Menggendong (BWC) dari School Babywearing of UK tahun 2018 dan Konselor Laktasi (LC) di tahun 2024. Melalui komik ini, Nuning berharap bisa menemani para orang tua agar bisa menggendong buah hati dengan aman, nyaman, dan bebas panik.
oleh Nuning Purwaningsih, S.Kom, BWC, LC
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Halo, Ibu…
Atau mungkin… halo, calon ibu yang sekarang lagi duduk sambil pegang test pack, sambil mikir,
“Ini beneran dua garis?”
“Ini aku senang… atau panik dulu, ya?”
Atau dua-duanya sekaligus?
Kalau iya… selamat datang.
Kamu resmi masuk ke klub:
“Aku bahagia… tapi juga takut.”
Perkenalkan, saya Nuning Purwaningsih.
Di belakang nama saya memang ada beberapa gelar: S.Kom, BWC, LC. Kedengarannya cukup meyakinkan, ya. Seolah-olah saya dari dulu sudah paham semua hal tentang kehamilan, menyusui, dan menggendong.
Padahal kenyataannya…
tidak juga.
Sama sekali tidak juga.
Bahkan dulu saya juga pernah ada di fase:
lihat bayi kecil = gemas,
disuruh pegang bayi asli = panik.
Saya seorang Enterpreneur, Konsultan Menggendong, dan Konselor Laktasi. Tapi sebelum semua itu, saya hanyalah seorang ibu yang pernah belajar dengan cara yang tidak mudah.
Tahun 2007, saya melahirkan anak pertama saya. Dan jujur saja… jalan ceritanya bukan tipe yang penuh kelopak bunga beterbangan dan musik harpa di background.
Kehamilan saya mengalami preeklamsia dan pengapuran plasenta dini, sampai akhirnya saya harus menjalani operasi caesar mendadak karena emergency. Setelah bayi lahir prematur, ia harus dirawat selama 10 hari di rumah sakit, lalu menjalani terapi sinar dua kali karena jaundice.
Waktu itu saya rasanya seperti:
“Ya Allah… ini kok level ujiannya langsung expert mode?”
Belum selesai sampai di situ.
Tahun 2007, situasinya juga berbeda dengan sekarang. Belum banyak rooming-in, belum ada IMD yang jadi perhatian utama, dan Rumah Sakit Ibu & Anak masih cukup sering menawarkan susu formula dengan pemberian lewat dot. Akibatnya, anak pertama saya sempat kena sufor dan otomatis mengalami bingung puting.
Dan di titik itu, saya benar-benar merasa seperti ibu baru yang belum ngerti apa-apa.
Saya ingat rasanya.
Capek.
Takut.
Sedih.
Bingung.
Lalu mulai muncul dialog internal yang sangat khas ibu baru:
“Kenapa begini?”
“Aku salah apa?”
“Apa aku kurang berusaha?”
“Apa semua ibu lain dapat kemudahan, terus aku doang yang nggak kebagian?”
Ternyata, tidak ada manual book instan.
Yang ada adalah proses belajar.
Saya butuh sekitar seminggu untuk mengembalikan bayi saya agar mau direct breastfeeding lagi, sampai akhirnya kami bisa kembali full ASI. Seminggu itu terasa panjang sekali. Ada momen optimis, ada momen bingung, ada momen mau nangis, dan mungkin ada momen ingin protes ke semesta juga.
Tapi justru dari perjalanan itulah saya belajar satu hal yang sampai sekarang saya pegang erat:
Menjadi ibu itu bukan bakat sulap.
Bukan habis melahirkan lalu tiba-tiba dapat semua skill terbuka otomatis.
Menjadi ibu adalah proses belajar.
Sedikit demi sedikit.
Step by step.
Kadang sambil senyum.
Kadang sambil nangis.
Kadang sambil googling terlalu jauh lalu malah tambah panik.
Nah, dari situlah komik Sekolah Ibu Muda ini lahir.
Saya membuat seri komik ini bukan untuk jadi “ibu paling tahu” yang berdiri sambil menunjuk papan tulis. Bukan juga untuk membuat ibu merasa harus sempurna. Justru sebaliknya, saya ingin komik ini terasa seperti teman yang duduk di samping Ibu, lalu bilang:
“Tenang, Bu… kita pelajari sama-sama.”
Karena saya tahu, di fase hamil dan awal menjadi ibu, yang sering dibutuhkan itu bukan ceramah panjang.
Yang dibutuhkan kadang cuma ini:
penjelasan yang sederhana,
panduan yang praktis,
penguatan bahwa perasaan kita normal,
dan kalimat kecil yang menenangkan:
“Kamu nggak sendirian.”
Di dalam seri ini, saya menuangkan banyak tahapan pembelajaran yang dulu saya jalani sendiri—tentang kehamilan, persiapan melahirkan, IMD, menyusui, sampai menggendong. Semua saya susun dengan harapan agar ibu muda tidak merasa harus menebak-nebak sendirian.
Karena jujur ya…
menjadi ibu itu sudah cukup menantang.
Tidak perlu ditambah drama “kenapa tidak ada yang ngajarin dari awal?”
Harapan saya, buku ini bisa jadi panduan praktis yang hangat dan menyenangkan. Bukan sekadar dibaca, tapi juga menemani. Bukan sekadar memberi informasi, tapi juga memberi rasa tenang. Supaya para ibu muda tahu bahwa dalam setiap tahap tumbuh kembang anak, ada hal-hal yang bisa dipelajari, dipahami, dan dijalani pelan-pelan.
Kalau saat membaca komik ini Ibu sempat berpikir:
“Wah, ternyata aku normal.”
“Ternyata rasa takut ini bukan berarti aku gagal.”
“Ternyata aku belum bisa… bukan berarti aku tidak akan bisa.”
“Ternyata semua ibu juga belajar.”
…maka saya akan sangat bahagia.
Karena pada akhirnya, saya percaya:
Ibu tidak harus langsung sempurna.
Ibu tidak harus tahu semuanya hari ini.
Ibu hanya perlu mau belajar, setahap demi setahap.
Dan kalau hari ini Ibu masih bingung, masih takut, masih banyak tanda tanya di kepala… tidak apa-apa.
Kadang perjalanan menjadi ibu memang dimulai bukan dengan kalimat,
“Aku siap!”
melainkan dengan kalimat,
“Ya ampun… sekarang aku harus ngapain?”
Dan itu juga tidak apa-apa.
Selamat datang di Sekolah Ibu Muda.
Mari belajar bersama.
Pelan-pelan.
Tanpa harus sempurna.
Tanpa harus tahu semuanya sekaligus.
Dan, semoga, dengan lebih banyak senyum daripada panik.
Walaupun… ya… panik sedikit biasanya tetap ada.
Namanya juga ibu baru.
Salam Sayang,
Nuning Purwaningsih, S.Kom, BWC, LC
yang sampai sekarang pun masih terus belajar untuk membersamai anak remajanya